Tampilkan postingan dengan label Konsumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsumen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

Car Free Day



Kali pertama digulirkan tahun 2002, car free day Jakarta hanya dilaksanakan di titik tertentu, yaitu Jl Mh Thamrin. Esensi dari car free day juga masih belum ditangkap sepenuhnya oleh masyarakat. Tak mengherankan jika kerap dijumpai mobil atau motor yang nyelonong di jalan yang seharusnya bebas dari kendaraan bermotor. Petugas – Kepolisian dan Dinas Perhubungan terpaksa pontang-panting mengejar dan memperingatkan para penyelonong jalur car free day.

Seiring berjalannya waktu, ketika hari bebas kendaraan bermotor dilaksanakan tiap hari minggu – semula hanya dua kali dalam sebulan, lokasi car free day juga mulai diperluas. Dan yang lebih penting, tanggung jawab masyarakat terhadap keberlangsungan car free day mulai terbangun.

Senin, 25 Maret 2013

Layak Tontonkah Televisi Kita?

Dibandingkan dengan media lain, televisi memiliki beberapa kelebihan. Diantara kelebihan tersebut karena media televisi dapat menyampaikan pesan pada pemirsanya dengan penggabungan antara suara, tulisan dan visualisasi bergerak yang tidak didapat di media lain. Maka tak mengherankakan bila dalam perkembangannya, menonton televisi bukan lagi sebuah keinginan, namun lebih dari itu telah menjadi kebutuhan.

Tetapi malang, ketika kebutuhan masyarakat akan televisi semakin tinggi, justru kita direcoki dengan tayangan yang bertentangan dengan akal sehat, tidak membumi, meninggalkan nilai-nilai edukatif, kekerasan dan bias gender. Sajian dari berbagai stasiun televisi di negeri ini, sebagian besar telah mengabaikan pada nilai-nilai dan budaya kesantunan. Mulai dari tayangan infotainment, acara hiburan, iklan sampai pada acara pemberitaan, acapkali menampilkan tayangan diluar kelayakan buat konsumsi publik, khususnya anak-anak.

Senin, 03 Desember 2012

Keterlambatan Pesawat dan Tanggungjawab Pengangkut



Salah satu moda transportasi yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan adalah moda transportasi udara. Beberapa hal yang ikut mendorong pertumbuhan tersebut antara lain munculnya low cost carrier dan iklim kompetisi dalam industri penerbangan yang lebih sehat.
Namun dibalik pertumbuhan jumlah penumpang yang pesat, tak pelak juga menyisakan sejumlah persoalan. Indikasinya adalah masih jamaknya keluhan / komplain penumpang. Aneka ragam bentuknya, mulai dari keluhan tentang tidak tepatnya waktu keberangkan dan kedatangan (on time permformace), kehilangan bagasi, sampai harga tarif melangit – khususnya waktu peak dan hari besar keagamaan.

Minggu, 25 November 2012

Biasakan Membaca Label



Jawablah dengan jujur; apakah Anda sering mencermati label produk pangan kemasan ketika sedang berbelanja? Bisa dimaklumi jika Anda menjawab jarang atau bahkan tidak pernah. Kebanyakan dari kita hanya memperhatikan harga, merek dan masa kadaluarsa saja ketika membeli sebuah prouduk pangan kemasan. Ini di perparah dengan bentuk tulisan label yang cenderung kecil, dan susah dibaca.
 Namun sebaiknya Anda segera mengubah kebiasaan tersebut. Banyak kasus gangguan kesehatan muncul justru bermula dari kesalahan sendiri yang tidak membaca label kemasan. Keteledoran seperti ini yang berujung pada tidak selektif memilih produk pangan kemasan.
Contohnya; muncul gangguan pencernaan pada balita karena memberi minuman susu yang bukan peruntukan umurnya. Atau terlalu sering mengonsumsi minuman energi mengakibatkan gangguan irama jantung, gangguan ginjal, hingga susah tidur, yang diduga akibat asupan berlebih kafein dan taurin. Selain itu, mengonsumsi produk olahan yang mengandung bahan pengawet secara rutin juga tidak baik bagi kesehatan.

Rabu, 14 November 2012

Rumah Ramah Lingkungan



Rumah, idealnya bukan saja menjadi tempat berteduh bagi sang penghuni tetapi juga sebagai pusat segala aktivitas. Rumah menjadi cerminan sebuah keluarga dari generasi kegenerasi berikutnya. Rumah juga harus memenuhi unsur kesehatan bagi penghuni maupun lingkungan sekitar. Ya, rumah sehat dan ramah lingkungan. Sebuah konsep rumah ideal di tengah padatnya hunian.
Prinsip pengembangan perumahan idealnya juga melihat pada aspek ramah lingkungan, yaitu adanya keseimbangan ekosistem atau keseimbangan alam. Prinsip ini terpeta dalam syarat AMDAL, yang mengacu pada berbagai komponen lingkungan, diantaranya; segi hidrologi, biologi, zoologi, hingga aspek sosial dan ekonomi masyarakat  sekitarnya. Keseimbanagn ini idealnya tertuang dalam master plan pembangunan perumahan dalam bentuk penanganan berbagai masalah lingkungan seperti penanganan air bersih, air limbah, air hujan, sampah, tata ruang, fasilitas pertamanan dan akses udara bersih.

Kamis, 01 November 2012

Anak dan Target Marketing Pangan



Di kurun waktu dasawarsa terakhir, kecenderungan penyandang obesitas (berat badan berlebih) tak hanya didominasi oleh mereka yang telah dewasa, tetapi juga di kalangan anak-anak. Kecenderungan ini tidak saja terjadi di Negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga pada Negara-negara maju. Bahkan, kekhawatiran ini telah menjadi topik pembahasan dalam sidang organisasi kesehatan dunia (WHO). 

Gencarnya promosi pangan “tidak sehat” yang ditujukan untuk anak, diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya obesitas. Berbagai jenis iklan makanan ringan, coklat permen, minuman, nyata-nyata menargetkan anak-anak sebagai konsumennya. 

WHO mendefinisikan pangan tidak sehat sebagai pangan tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam, dan atau rendah serat. Di Indonesia, sebuah lembaga perlindungan konsumen, mempertimbangkan perlu ditambah dengan penggunaan bahan tambahan kimia yang berlebihan. Meskipun WHO belum menetapkan angka tertentu yang dapat digunakan sebagai batasan atau indikator pangan tidak sehat, beberapa negara telah memiliki standar tersebut, diantaranya Inggris, Amerika dan Eropa.

Selasa, 30 Oktober 2012

Awas Jerat Kredit Konsumsi!



Sebelum memasuki swalayan ternama, bu Hindun dicegat oleh sales promotion girls yang menawarkan berbagai peralatan rumah tangga. Hebatnya barang yang ditawarkan selain terbilang modern, juga dengan mudah dapat diperoleh secara kredit. Tertarik dengan penawaran ditambah persyaratan mudah, ibu Hindun memutuskan untuk mengambil kredit barang. Rupanya tak hanya ibu Hindun, kredit barang itupun diserbu pengunjung lain.
Kendati hanya sebuah ilustrasi, namun gambaran diatas menunjukkan bahwa kredit saat ini tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Budaya kredit nampaknya menjadi hal lazim yang bukan lagi dianggap aib. Kredit alias hutang yang dulu menjadi simbol ketidakmampuan (baca: kemiskinan), kini justru telah tumbuh subur menjadi salah satu metode untuk mendapatkan barang atau jasa. 

Jika dulu, orang berhutang karena keterpaksaan ekonomi atau menjadi alternatif terbaik diantara terburuk mana kala sumber dana lain sudah mulai mengering, saat ini hutang justru menjadi simbol status sosial. Kartu kredit, misalnya, yang sebenarnya ”kartu hutang” justru menjadi instrumen finansial mapan dan bergengsi, kaum profesional, dan simbol kesuksesan. Ironisnya, sebagian orang justru setuju dan berlomba-lomba mengejar status sosial ekonomi dengan cara berhutang. Terbatasnya sumber penghasilan tidak menghalangi seseorang untuk memiliki barang-barang mewah. Mulai dari rumah mewah, mobil ratusan juta, motor hingga barang-barang remeh temeh peralatan rumah tangga.

Jumat, 05 Oktober 2012

Mewaspadai Marketing Umroh dan Haji berkedok MLM




Dalam sepuluh tahun terakhir, ribuan masyarakat telah menjadi korban praktik penipuan berkedok investasi. Aneka ragam latar belakang korban dan modus penipuan berkedok investasi. Strategi aksi memperdaya masyarakat ini, pada umumnya diawali dengan merekrut public figure atau tokoh masyarakat sebagai peserta (anggota). Sehingga tidak aneh apabila anggota DPR, pemimpin media, istri pejabat juga tidak lepas menjadi korban aksi penipuan berkedok investasi.