
Prinsip pengembangan perumahan idealnya juga
melihat pada aspek ramah lingkungan, yaitu adanya keseimbangan ekosistem atau
keseimbangan alam. Prinsip ini terpeta dalam syarat AMDAL, yang mengacu pada
berbagai komponen lingkungan, diantaranya; segi hidrologi, biologi, zoologi,
hingga aspek sosial dan ekonomi masyarakat
sekitarnya. Keseimbanagn ini idealnya tertuang dalam master plan
pembangunan perumahan dalam bentuk penanganan berbagai masalah lingkungan
seperti penanganan air bersih, air limbah, air hujan, sampah, tata ruang,
fasilitas pertamanan dan akses udara bersih.
Penanganan Air
Penanganan air bersih di perumahan ramah lingkungan
sebaiknya dilakukan secara mandiri. Ini dilakukan demi penyelamatan air tanah
karena pada penanganan air bersih secara mandiri, sumber air bersih berasal
dari air permukaan yang diolah menjadi air bersih oleh suatu sistem unit pengolahan.
Dalam sistem pengolahan air bersih ini, unit
pengolahan yang diperlukan biasanya mencakup unit penyaringan, pengolahan
kimiawi, dan biologi. Kelengkapan unit ini tentu bergantung pada kualitas dan
kuantitas sumber air yang diolah.
Untuk menjaga kesimbangan alam, pada sistem ini
harus dilihat debit air yang diambil, apakah sesuai dengan perhitungan
hidrologis yang berpengaruh pada kontinuitas air permukaan tersebut. Selain
itu, perlu ada penanganan lumpur sisa pengolahan sehingga tidak menjadi limbah yang
dapat merusak lingkungan.
Sedangkan untuk penanganan air limbah, beberapa
perumahan telah memiliki sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sendiri.
Dengan sistem ini maka pengolahan limbah dilakukan secara terpusat. Hal ini
dapat mengurangi risiko tercemarnya air tanah dan air permukaan oleh limbah
domestik, dibandingkan apabila limbah ditangani secara konvensional.
Jika secara tradisional limbah manusia ditampung
dalam septic tank yang berisiko
mencemari air tanah, sedangkan limbah sisa detergen, air kotor yang dibuang
melalui saluran air, berpotensi mencemari badan air secara akumulatif.
Dampaknya sangat luas bagi ekosistem air dan kualitas air permukaan.
Sementara untuk air hujan, penanganan terbaik
adalah dengan peresapan langsung ke dalam tanah, baik dengan sistem biopori
(sumur resapan),maupun dengan sistem paving (corn block) pada jalan. Fasilitas jalan ini memungkinkan air bisa
langsung meresap ke tanah. Biopori dan corn
block ini menjadi ciri khas perumahan yang concern terhadap lingkungan. Pengelolalan air hujan juga bertujuan
untuk menghindari luapan air hujan yang berlebihan.
Penanganan Sampah
Penting untuk mensosialisasikan pemisahan antara
sampah organik dengan sampah non organik. Sampah jenis organik dapat diolah menjadi
kompos, sementara sampah non organik dapat dikumpulkan di sanitary landfill untuk pemisahan lebih lanjut demi kepentingan proses
daur ulang. Ini dimaksudkan agar limbah sampah tidak mencemari air tanah dan
air permukaan.
Fasilitas tempat sampah umum dengan pemisahan jenis
sampah organik dan non organik mutlak diperlukan. Sampah-sampah dari setiap
rumah tangga yang ditampung di fasilitas tempat sampah harus diangkut setiap
hari dan langsung menuju ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Tata Ruang dan Pertamanan
Tata ruang yang berwawasan lingkungan adalah tata
ruang yang banyak menyisakan area hijau dengan pepohonan alami atau asli dari
kawasan itu. Semakin banyak pepohonan hijau akan semakin baik. Selain itu
pembangunan sebaiknya mengikuti kontur lahan, sehingga aliran air tidak
terganggu. Saat ini, dengan kemampuan arsitek dan teknik sipil yang memadai,
daerah perbukitan atau tanah curam pun dapat dijadikan lahan perumahan, tanpa
perlu meratakannya.
Sedangkan pertamanan, kebanyakan lebih dipandang
nilai keindahan daripada fungsinya sebagi penahan limpasan dan peresap air
hujan. Apalagi jika lebih banyak rerumputan dari pada pepohonannya. Hal yang
sangat perlu diperhatikan dalam merawat taman adalah meminimalisir penggunaan
pestisida, atau bila memungkinkan hindari penggunaan pestisida sama sekali.
Akses Udara Bersih
Akses transportasi yang mudah dan lancar ke
perumahan memberi pengaruh terhadap kualitas udara diperumahan tersebut. Hal
ini terjadi karena daerah yang macet dan padat dengan kendaraan akan
menghasilkan emisi gas buang yang lebih besar pula. Selain itu, perumahan dekat
dengan daerah industri juga rawan akan pencemaran udara. Oleh karena itu,
lokasi juga menentukan apakah suatu perumahan layak disebut berwawasan
lingkungan atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar